istimewa

Mari Mempelajari Tentang Cara Berbusana yang Islami

depi / January 7, 2018

Menyembunyikan aurat merupakan kewajiban kepada setiap masyarakat muslim, bagi itu putra ataupun wanita. Beberapa Ahli Agama madzhab Syafi’i berpendapat maka aurat untuk kelompok laki-laki ialah yang sekitar pusat dan dengkul. Sebaliknya bagi wanita, semua badan wajah dan telapak tangan.

Secara global, mengenakan segala jenis pakaian (kecuali dari ramuan yang tidak diperbolehkan) adalah diperbolehkan sementara ia menutup aurat. Tapi, memakai busana yang digunakan atau disukai dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam kelihatan mendapati keistimewaan sendiri dibandingkan baju biasa.

Akan hanya, beberapa kecil kiyai bergagasan maka menggunakan baju yang dikenakan oleh Nabi semata-mata ialah tradisi dari keturunan Arab. Bahwa berawal dari saran ini, gamis, contohnya, tidaklah termasuk sunnah.

Terlepas mengenai tanggapan tersebut, sebagian besar ustad yakin bergagasan, apabila seseorang memakai baju ‘sunnah’ tersebut sambil dasar sayangnya pada Nabi, lalu kamu tentu meraih balasan atas sayang tersebut.

Saat masa kali ini, silahkan saya periksa sedikit bermacam-macam sunnah-sunnah Rasulullah dalam baju sehari-hari.

Peci dan ‘Imamah

Saat telaah dalam sunnah berbusana ini, kami awal dari komponen kepala, gimana Rasulullah dan para sahabat.

“Dahulu (pada hari-hari di musim panas), kaum itu (Rasul dan para sahabat) bersujud pada surban, dan songkok (peci), sedang kedua tangannya pada lengan bajunya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah: Bab As-Sujud ala Ats-Tsaub fi Syiddah Al-Harr (1/150)]

Rasulullah menggunakan imamah/sorban yang dililit di kepala. Hal ini berdasarkan kisah oleh sahabat ‘Amr bin Harits -semoga Allah meridhoinya- pernah menyatakan:

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dengan memakai sorban hitam di kepalanya” (HR. Muslim 1359)

Gamis dan Jubah

Rasulullah sangat suka memakai gamis. Dikatakan, dia demen menggunakan gamis dengan ia kian menutup bagian tubuh.

Dari Ummu Salamah -semoga Allah meridhoinya-, ia berkata,

“Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah gamis.” (HR. Tirmidzi no. 1762)

KH Mushthofa Bisri menafsirkan hadits tentang pakaian yang paling disuka oleh Nabi ini dengan pakaian daerah masing-masing (yang menutup aurat, semisal batik). Sehingga, apabila kita mengenakan batik dengan niat mengikut Nabi (yang mencintai pakaian daerahnya, yaitu gamis), maka ia akan mendapat pahala.

gamis, Nabi juga senang memakai baju luaran (jubah). Terdapat tidak banyak hikayat yang mengartikan bekenaan kejadian ini, tetapi kamu ambil satu saja.

Dari Abu Rimtsah Rifaah At-Taymiy -semoga Allah meridhoinya-: “Saya pernah melihat Rasulullah memakai dua baju yang hijau”. (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

“Dua baju” yang dimaksud pada hadits ini adalah baju dalam (gamis) serta baju luar (jubah). Contohnya bisa lihat pada gambar di bawah.

Sarung

Sarung (izaar) sudah pernah ada dan berjibun dipakai sejak era Nabi. Pada awalnya, sarung yang tampak pada masa tertera kurang makin sama atas segalanya yang ada di era sekarang.

Namun, pada zaman jahiliyyah, sebagian penduduk terencana memanjangkan kain sarung atau gamisnya hingga melewati mata kaki hendak menunjukkan bahwa dia yakni insan berpunya alias berniat menyombongkan dirinya.

Wajar saja, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam lalu mencegah untuk memanjangkan kain sarung/gamis melebihi mata kaki.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar -semoga Allah meridhoi keduanya-, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya di hari Kiamat kelak.’”

Dari Abu Hurairah -semoga ALlah meridhoinya- dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Kain sarung yang berada di bawah mata kaki tempatnya di Neraka.”

Syaikh berpendapat dari hadits ini, bahwasannya terlarang hukumnya menjulurkan kain celana/sarung/gamis melewati mata kaki dengan niatan bangga. Akan halnya andaikan enggak memiliki tujuan sombong, maka ulama berbeda argumen, sebagian beroponi makruh, sebaliknya yang lainnya beropini mubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *